Kurang lebih 8 tahun silam ada berita menarik di Jawa Pos. Koran ini menurunkan berita gebrakan seorang kepala desa di Magetan yang miris melihat nilai rapor anak-anak sekolah minus, pendidikan agama yang kurang, serta komunikasi orangtua dan anak yang sering memburuk.

Kepala desa beserta BPD ini mengajak rapat warganya. Ia menyampaikan gagasannya; menjelang maghrib hingga pukul 21.00 WIB tidak boleh ada TELEVISI menyala di rumah warga. Anak-anak wajib belajar mengaji bakda magrib dan setelah isya’ wajib belajar mata pelajaran sekolah. Adapun orangtua bisa mendampingi anaknya mengaji dan belajar, dan kalaupun tidak mampu mendampinginya bisa diserahkan ke guru mengaji dan guru privat. Pada jam-jam tersebut orangtua bisa beristirahat atau bercengkerama dengan tetangga maupun kegiatan lain. Usul ini awalnya mendapatkan pro-kontra.

Yang pro melaksanakan aturan ini, yang kontra juga dibiarkan tanpa paksaan. Kepala desa ini didampingi hansip berkeliling bakda magrib ke rumah penduduk dengan mengontrol programnya. Setelah itu juga berkunjung ke pihak yang kontra aturan ini sambil tetap menyampaikan gagasannya tiada henti.

Setelah sekitar 6 bulan program ini berjalan, hasilnya mencengangkan! Nilai anak-anak tak lagi minus, bahkan banyak yang berprestasi, kemampuan mengaji juga meningkat pesat! Keharmonisan rumahtangga juga lebih stabil! Pihak yang awalnya tidak mendukung program ini mulai luluh. Mereka berbalik mendukung sepenuhnya. Hingga akhirnya, setiap menjelang magrib hingga pukul 21.00 WIB, di desa tersebut tak akan dijumpai bocah usia sekolah berkeliaran. Semua belajar. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, dan tanpa gegap gempita slogan bombastis, kepala desa ini bekerjakeras dengan didukung warganya. Ia tidak mencela pihak yang tidak mendukung programnya. Ia justru terus berusaha memberi bukti, hingga akhirnya semua mendukung terobosan jitu ini.

Saya lupa nama kepala desa visioner ini, begitu pula nama desanya. Tapi ia telah memberi teladan, juga menyodorkan betapa berbahayanya TELEVISI dalam menumpulkan nalar dan memberi peluang malas mengaji. Ini levelnya masih televisi.

Padahal gawai saat ini pengaruhnya lebih dahsyat daripada TV. Kita bisa saja membatasi akses televisi dari tayangan yang tidak bermutu dengan memindah chanel, misalnya. Namun, gawai alias gadget memberikan peluang interkoneksi yang lebih luas dan tidak terjangkau. Bahkan, benda ini telah mendekatkan yang jauh, serta menjauhkan yang dekat. Coba dicek, sudah capek-capek merencanakan reuni, eh ketika berlangsung malah acara reuninya 10 menit, sisanya semua asyik dengan hapenya masing-masing.

Belajar dari peristiwa kepala desa dan aturan televisi di atas, yang pentung, eh penting kita perhatikan adalah mengontrol akases terhadap televise, tidak melarangnya. Dengan cara mengatur aksesnya, maka manajemen waktu bisa dijalankan dengan baik. Saya kira ini bisa berlaku ketika kita memaksa diri memenej waktu berdekatan dengan hape. Sebab, sebagaimana dikatakan guru saya: “Bagaimana caranya agar kita tuntas membaca satu buku atau bahkan selesai menulis sebuah buku? Jawabnya, matikan dulu hapemu!”

Wallahu A’lam Bisshawab

Rijal Mumazziq Z

 

Leave a comment