Pesantren yang khas yang menggabungkan ilmu keislaman dan kearifan lokal masyarakat Minangkabau memang jarang. Namun berbeda dengan pesantren yang satu ini. Pesantren Al Falah ini menamakan pesantrennya Minangkabau. Pesantren yang mengajarkan ilmu agama islam, dan ilmu pengetahuan umum, dengan tidak melupakan tradisi Minangkabau. “Semua sektor harus dapat bekerjasama untuk menciptakan iklim Minangkabau yang kondusil‘ sehingga “babaliak ka nagari” tidak hanya sekedar semboyan belaka, tetapi harus dibarengi juga dengan perubahan akhlak generasi muda ke arah yang lebih balk,” jelas Kiai Adi Sahyogi, pimpinan pondok Pesantren Minangkabau, Padang kepada suarapesantren (Maret 2017). Menurutnya, Setiap orang harus memiliki perananya masing-masing seperti; peranan mamak, bundo kanduang, dutuak, cadiak pandai dan juga alim ulama. Mulailah dari apa yang dapat kita lakukan sejak sekarang. Jangan sampai keberhasiIan-keberhasilan para pendahulu hanya menjadi sebuah catatan sejarah, tanpa pernah kita mengulanginya kembali. “Waktu terus bergulir. Pergeseran nilai, norma dan kaidah telah sering terjadi di tanah Minang. Tidak dapat disangkal perkembangan zaman membawa faham-faham menyimpang . Hal ini merupakan pekerjaan yang berat bagi generasi muda dan juga semua tokoh-tokoh yang saling terkait dalam mengembalikan kebanggaan Minangkabau yang diimpikan. Hal yang sangat mendasar adalah generasi muda harus diberikan pendidikan agama, moral dan nilai budaya yang kuat untuk meningkatkan kesadaran bahwasanya orang Minang dahulu telah berhasil dalam peningkatan keeksistensi Minangkabau baik nasional maupun internasional,” jelasnya. Untuk itu, Yayasan Shine Al Falah berikhtiar merajut kegemilangan yang telah ditorehkan oleh para pendiri dan pemikir Minangkabau secara berangsur-angsur dengan mendirikan “Pesantren Perkampungan Minangkabau ini. Di lembaga ini siswanya dididik budaya Minangkabau yang elegan, disandingkan dengan materi pendidikan nasional sesuai dengan jenjang pendidikannya. Serta di bawah bimbingan Kementerian agama. Anak didik yang belajar di pesantren ini tanpa memandang status sosial, ekonomi, suku, etnis, agama, dan gender. Walaupun suku yang dipelajari Minangkabau, namun tetap mengedepankan kebangsaan dan nasionalisme. Pesantren yang berdiri sejak 2013 ini sekarang sudah mempunyai santri 174 orang. Beralamat di Jl. Mekah No. 10 Kel. Koto Panjang Ikur Koto, Kec. Koto Tengah, Kota Padang, terletak di pinggir kota Padang. Semangat para pendiri pesantren ingin mewujudkan generasi muda Berakhlakul karimah yang tangguh, jujur, adil, disiplin, bertanggung jawab yang beriman kepada Allah. Mampu Bersaing serta istiqomah mempertahankan Nilai Nilai Aqidah di era Kemajuan Global. Para santri diharapkan dapat terus menjalankan Perintah Allah SWT dan RasulNya untuk membantu sesama dengan peduli terhadap Pcndidikan Kaum Dhu’afa. Mempertahankan ilmu-ilmu ke islaman melalui system pengkajian kitab-kitab kuning (kitab gundul). Para santri di pesantren ini juga diharapkan menjadi masyarakat yang gemar berdzikir, berdoa dan berusaha dengan ikhlas, jujur serta sungguh sungguh dan bertanggungjawab. Menyiapkan santri-santri yang terampil di bidang ilmu agama dan ilmu umum serta siap terjun di masyarakat. mampu bersaing baik di dalam maupun Luar Negeri, dan mampu menjawab tantangan-tantangan Global. Selain itu, santri dapat membantu pemerintah dalam mensuksekan Pedidikan terutama untuk anak Dhu‘afa (Anak Yatim. Fakir Miskin, Mu’alaf serta anak-anak terlantar). Santri juga diharapkan dapat memmberdayakan Pendidikan dan Melestarikan Adat Minangkabau yang berlandaskan Adat Basandi Sara’, Syara’ Basandikan Kitabullah. (a. sajad) Bagikan: Tweet

Leave a comment