NU sebagai Jam’iyah maupun sebagai penganut paham dalam Islam yang mengikuti sistem bermadzhab selalu mendapat serangan dan gempuran, bertubi-tubi, terus menerus, tak ada habisnya.

 

Kali ini ada ustadz dalam pengajiannya berupaya membenturkan pimpinan NU dengan hasil keputusan muktamar. Yaitu soal tradisi yang berkembang di masyarakat yang masih dijadikan budaya, seperti nyadran, sedekah bumi, syukuran hasil panen dan sebagainya. Beliau kemudian mencantumkan hasil keputusan muktamar di era awal berdirinya Nahdlatul Ulama.

 

Ustadz tersebut tidak faham bahwa di NU sudah ada keputusan terbaru tentang masalah ini. Subtansi sama jika tidak sesuai dalam aturan Islam. Namun jika sudah diselipkan ajaran Islam seperti membaca Qur’an, sedekah, shalawat, doa dan lainnya maka jelas diperbolehkan. Kalau masih ada beberapa hal yang belum sesuai, tinggal kita dakwahkan secara bertahap supaya sesuai dengan ajaran Islam.

 

  1. Sesajen

 

Nyadran tidak dapat serta merta dihukumi syirik, sebab kita tidak pernah tahu niatan pelakunya. Oleh karena itu para ulama Syafi’iyah memerinci perbuatan tersebut berdasarkan niat.

 

Di zaman ulama terdahulu bentuk nyadran ini sudah ada kemiripan dalam bentuk menyembelih hewan. Salah satu ulama ahli tarjih dalam madzhab Syafi’i, Imam Ibnu Hajar Al Haitami berkata:

 

ﻭﻣﻦ ﺫﺑﺢ ﺗﻘﺮﺑﺎ ﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻟﺪﻓﻊ ﺷﺮ اﻟﺠﻦ ﻋﻨﻪ ﻟﻢ ﻳﺤﺮﻡ، ﺃﻭ ﺑﻘﺼﺪﻫﻢ ﺣﺮﻡ

 

“Barang siapa menyembelih hewan untuk mendekatkan diri kepada Allah agar terhindar dari gangguan jin, maka tidak haram (boleh). Atau menyembelih dengan tujuan kepada jin maka haram” (TTuhfatul Muhtaj 9/326)

 

– Nyadran Yang Menjurus Syirik

 

Syekh Abu Bakar Dimyati Syatha (banyak ulama Indonesia berguru kepada beliau diantaranya KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU) berkata saat mensyarahi ungkapan Ibnu Hajar diatas yang dikutip oleh muridnya dalam Fathul Mu’in:

 

ﺑﻞ ﺇﻥ ﻗﺼﺪ اﻟﺘﻘﺮﺏ ﻭاﻟﻌﺒﺎﺩﺓ ﻟﻠﺠﻦ ﻛﻔﺮ

 

Bahkan jika menyembelih hewan dengan tujuan mendekatkan diri dan ibadah kepada jin maka ia telah kafir (Ianatuth Thalibin 2/397)

 

  1. Tingkepan atau 7 Bulanan Kehamilan Ibu

 

Subtansi dari 7 Bulanan adalah mendoakan kehamilan seorang ibu. Berikut dalil hadisnya:

 

بَابُ مَا جَاءَ فِي دُعَائِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْبَرَكَةِ لِحَمْلِ أُمِّ سُلَيْمٍ مِنْ أَبِي طَلْحَةَ … وَقَدْ كَانَ أَصَابَهَا تِلْكَ اللَّيْلَةَ ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : « بَارَكَ اللهُ لَكُمَا فِي لَيْلَتِكُمَا » ، قَالَ : فَوَلَدَتْ لَهُ غُلاَمًا كَانَ اسْمُهُ عَبْدُ اللهِ ، قَالَ : فَذَكَرُوْا أَنَّهُ كَانَ مِنْ خَيْرِ أَهْلِ زَمَانِهِ (دلائل النبوة للبيهقي – ج 6 / ص 406)

 

Bab tentang riwayat doa Nabi Muhammad Saw dengan keberkahan untuk kehamilan Ummu Sulaim dari Abu Thalhah… Abu Thalhah bersetubuh dengannya, Kemudian Nabi Saw mendoakan: “Semoga Allah memberkati kalian berdua di malam kalian”. Ummu Sulaim melahirkan anak untuk Abu Thalhah, bernama Abdullah. Mereka menyebutkan bahwa Abdullah adalah termasuk orang terbaik di masanya” (HR Al-Baihaqi dalam Dalail an-Nubuwwah, 6/406)

 

Apakah tidak termasuk tabdzir? Di dalam Madzhab Syafi’iyah dijelaskan bahwa jika menghamburkan harta memiliki tujuan adalah diperbolehkan:

 

ﻭﺗﻀﻴﻴﻊ اﻟﻤﺎﻝ ﻭﺇﺗﻼﻓﻪ ﻟﻐﺮﺽ ﺟﺎﺋﺰ ﻣ ﺭ ﺳﻢ ﻋﻠﻰ ﺣﺞ

 

“Menyia-nyiakan harta karena ada tujuan adalah boleh” (Hawasyai Asy-Syarwani  3/115)

 

Apa tujuannya? Tentu sedekah di saat kehamilan. Hal semacam ini pernah dilakukan oleh keluarga Imam Ahmad ketika istrinya hamil, yang menjual perhiasannya dan laku sebesar 8.5 Dirham kemudian dibagi-bagikan saat istrinya hamil (Ibnu Al-Jauzi, Manaqib Ahmad bin Hanbal hal. 406-407)

 

Sedangkan yang dimaksud keharaman dalam 7 Bulanan hasil keputusan muktamar adalah melempar kendi yang berisi air, bukan 7 bulanannya. Sudah maunya menyalahkan, justru dia sendiri yang salah memahami (lihat foto di bawah)

 

– Apa tidak bertentangan dengan hasil Muktamar NU? Tentu tidak. Yang dilarang dalam muktamar NU sekali lagi jika sampai bertentangan dengan hukum Islam.

 

Ma’ruf Khozin, anggota Aswaja NU Center PWNU Jatim

Leave a comment