Koncer Darul Aman Tenggarang Bondowoso Jawa Timur

Oleh | Umar Faruq*

Selembar kain merah putih itu perlahan naik merayapi langit. Gemuruh kumandang Indonesia Raya oleh para Santri dan sivitas Pesantren Al Maliki turut mengiringi membubungnya Sang Saka nan suci. Alunan lagu yang terlantun semarak dan khidmat, menggambarkan semangat patriotisme yang bergumuruh di dada kaum Santri.

Pagi tadi di pelataran Pesantren Al Maliki Koncer Bondowoso, Kiai bersama pengurus dan para santri, rela berdiri di bawah tatapan langit biru untuk melaksanakan upacara bendera dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI ke 72. Mereka tak perduli dengan semburat cahaya matahari, atau hembusan angin kemarau yang dingin dan kering, atau deru debu yang dibawa hembusan angin. Kecintaan terhadap bumi pertiwi telah mengabaikan semua keadaan yang tak nyaman.

Yang unik dari Upacara Bendera di Pesantren Al Maliki ini adalah, semua perserta upacara mengenakan baju khas Pesantren Al Maliki, yaitu jubah putih dan imamah atau surban yang dililitkan di kepala. Kiai Muhammad Hasan bertindak sebagai Pembina Upacara. Komandan Upacara oleh Ahmad Mundir. Amir Zaim sebagai Protokol, dan Ardi Hamzah Pembaca UUD 1945. Pembawa Teks Pancasila. Paskibra. Pembaca doa. Semuanya berpakaian jubah dan mengenakan Imamah. Para dewan pengajar dan segenap santri peserta upacara juga berjubah dan berimamah.

Kita harus bisa dibanggakan oleh Pangeran Diponegoro, oleh Tuanku Imam Bonjol, dan oleh para syuhada bangsa. Kita tunjukkan bahwa orang bergamis (berjubah) itu Cinta NKRI….!” petikan Pidato Kebangsaan Kiai Muhammad Hasan, Pengasuh Pesantren Al Maliki saat bertindak sebagai Pembina Upacara.

Bagi Pesantren Al Maliki, komitmen mencintai NKRI itu bersinergi dengan doktrin keimanan. Karena negeri ini tempat yang nyaman untuk beribadah. Indonesia adalah kampung dunia untuk menyemai bekal menuju keabadian yang hakiki di akherat kelak. Bumi Pertiwi tempat paling damai untuk memupuk keimanan dan keislaman. Maka mencintai negeri ini adalah keniscayaan yang laa budda minhu. Sebagaimana mempertahankan negeri ini pun juga menjadi kewajiban yang harus ditanamkan kepada Santri.

Kecintaan para santri Al Maliki kepada para pahlawan, sudah tertanam sejak dini. Cerita tentang perjuangan para pahlawan tidak hanya diperoleh dari buku-buku sejarah di sekolah formal. Tetapi Santri Al Maliki seringkali mendengar narasi heroisme langsung dari Kiai. Karena sesungguhnya Kiai Ahmad Tirmidzi, ayahanda Kiai Mu’iz Tirmidzi adalah seorang veteran TNI yang ikut terlibat dalam pertempuran mempertahankan kemerdekaan RI di Surabaya pada tahun 1945.

Konon Kiai Ahmad Tirmidzi ikut mendampingi Bung Tomo berperang melawan tentara sekutu yang diboncengi NICA Belanda. Kehebatan Kiai Ahmad Tirmidzi saat di medan tempur seringkali dituturkan oleh Kiai dengan detail. Seakan kami ikut larut dalam suasana pertempuran itu. Sehingga kisah heroik itu menjadi suplemen pengetahuan tentang para pahlawan yang sangat berharga.

Maka tidaklah heran jika saat upacara bendera, saat mendoakan arwah para pahlawan, atau saat pengibaran bendera merah putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya, para santri Al Maliki selalu larut dalam kekhidmatan. Bahkan tak jarang diantara mereka sampai menenteskan air mata. Karena yang hadir di hati mereka bukan hanya sederet pahlawan yang sudah tertera di buku sejarah. Tetapi yang hadir juga adalah pahlawan dari keluarga pesantren sendiri, Kiai Ahmad Tirmidzi, ayahanda Kiai Muiz Tirmidzi, yang berarti kakek dari Kiai Muhammad Hasan, pengasuh saat ini.

Upacara bendera di Pesantren Al Maliki, bukan dilaksanakan baru-baru ini saja. Tidak. Tetapi sudah dilakukan sejak awal-awal pendirian dulu sampai saat ini. Bahkan ketika saya menjadi Ketua OSIS Madrasah Nurul Huda di Pesantren Al Maliki (sekitar tahun 1997-an), sengaja mendatangkan instruktur upacara dari Markas Komando Distrik Militer 0822 Bondowoso. Jadi, santri langsung dilatih upacara oleh personil tentara aktif demi melatih kedisiplinan serta membangun jiwa nasionalisme yang kuat.

Jika pagi tadi Pesantren Al Maliki melaksanakan upacara bendera di Hari Kemerdekaan, ini merupakan aplikasi dari komitmen Cinta NKRI yang bersinergi dengan doktrin keimanan dan keislaman dan tertanam sejak dini.

Kini, Sang Saka Merah Putih itu telah berkibar di ujung tiang besi di langit Pesantren Al Maliki. Para Santri lalu meninggalkan area upacara dan kembali ke asrama masing-masing. Jiwa mereka sudah dipenuhi oleh semangat Nasionalisme yang baru saja dicerahkan dengan rangkaian seremoni Upacara Dirgahayu Kemerdekaan RI. Sehingga para Santri sadar, bahwa mereka bisa belajar secara merdeka, bisa bermain secara merdeka, bisa beribadah secara merdeka, karena berkat Rahmat Allah yamg ikhtiari dengan perjuangan dan pengorbanan para Syuhada. Nyawa. Darah. Air mata. Menjadi tebusan untuk bisa meraih kemerdekaan seperti yang kita rasakan saat ini. Kita hanya bisa membalas dengan sebait doa dan fatihah.

إلى جميع الشهداء والمجاهدين في دفاع استقلال اندونسيا، لهم الفاتحة….

 

Leave a comment