Banyak orang percaya bahwa di Mekah, perbuatan baik-buruk saat di tanah air akan diperlihatkan. Mekah adalah miniatur akhirat. Kandungan surat al Zalzalah : 

فمن يعمل مثقال ذرة خيرا يره، ومن يعمل مثقال ذرة شرا يره

akan terbukti di Mekah !

Anda boleh percaya atau tidak, believe it or not. Itu urusan Anda. Aku juga kadang percaya, kadang tidak. Tergantung konteks .

“Itu hanya kebetulan”.

“Itu hanya sugesti”.

“Itu cocokologi saja”.

Begitu pikirku. Dulu sebelum berhaji.

Tapi banyaknya cerita orang tentang hal itu, bahkan belakangan kualami – atau minimal kusaksikan sendiri selama tiga kali berhaji – membuatku kemudian merenung dan perlahan mulai mempercayai.

Perilaku burukmu di Tanah Air, akan dibalas oleh Allah di Tanah Suci. Dan perilaku burukmu di Tanah Suci, akan dibalas kontan oleh Allah, di Tanah Suci langsung ! Demikian kira-kira kalo diteorikan.

Seorang teman bercerita, ketika ia melontar jumroh pada musim haji beberapa tahun lalu, ia tergesa melemparkan batu hingga mengenai kepala orang India di depannya. Jemaah India berusia tua itu menoleh ke arah sang  teman dan melotot. Marah sepertinya, dengan bahasa India. Sang teman mencoba meminta maaf, dibantu bahasa tubuh menggeleng-geleng kepala. Seperti yang sering ia lihat di film India.  Urusan pun selesai.

Tapi tak lama berselang, “plakk…”, sebutir kerikil tajam bersarang di bagian belakang kepala temanku itu. Sang teman meringis kesakitan. Ia sempat marah dan mau mencari siapa pelakunya di belakang. Tapi ia segera istigfar lalu berfikir positif : mungkin inilah karma Mekah, buah dari sakit hati si India yang tadi jadi korban.

Ini kisah nyata. Dituturkan kepadaku oleh orang yang mengalaminya langsung.

Ada banyak kisah lain. Di antaranya kisah seorang ketua kloter yang tersesat di dekat jamarat, Mina. Saat hendak melontar  jumroh ula, wustha dan aqabah, ia memisahkan diri dari rombongan. Ia merasa tahu jalur pulang. Malah ia bergumam, “Di Mina ini banyak petunjuk jalan. Tapi kenapa ya masih saja ada jemaah kesasar”.

Begitu selesai melontar jumroh, ia berjalan mengikuti arus jemaah lain. Tapi kemudian ia  kelimpungan. Di tengah kerumunan orang banyak, ia tidak tahu posisi ada di mana dan harus pulang lewat mana.

Lebih satu jam ia tersesat. Jalan ke arah sini, salah. Ke arah sana juga salah. Ketua kloter gitu lho. Sosok pilihan hasil seleksi ketat di tanah air. Tapi kok tersesat jalan?! Malu donk !

Ia pun segera istigfar. Ya Allah, tadi aku merasa angkuh. Merasa tau rute Mina hingga yakin bisa pulang sendirian. Ya Allah, aku hanyalah seorang tamu di tanah-Mu. Sungguh tidak pantas seorang tamu berlaku sombong !

Ia terus beristigfar sambil berjalan lunglai. Hingga kemudian tiba-tiba ada seorang jemaah perempuan tua asal Tasikmalaya menghampirinya, lalu menanyainya tentang rute arah tenda maktabnya di Mina. Rupanya si ibu itu pun tidak tau jalan pulang. Sebelas – Dua Belas deh.

Seolah mendapat ilham, sang ketua kloter dengan penuh percaya diri menunjukkan arah tenda si ibu itu, bahkan mengantarkannya pulang. Dan arahnya benar !

Begitu sampai ke tenda si ibu itu, ia sadar ternyata tenda mereka berdampingan. Sang ketua kloter yang sempat linglung itu pun bisa pulang ke tendanya. 

Itulah keramat Mekah, Tanah Suci.

Karena itu, jika Anda telah berada di sini, jagalah sikap, tutur kata, bahkan isi hati. Jiwa atau hati yang kotor akan terpental di sini. Anda boleh percaya atau tidak, believe it or not, pilihan ada di tangan Anda. Aku tidak akan memaksa.

Begitu juga bagi Anda di tanah air dan berniat pergi ke Mekah, jagalah kesucian diri dan hati sejak sekarang, sejak keberadaan Anda di tanah air. Karena perilaku burukmu di kampung halaman, akan menuai karma saat engkau tiba di Mekah kelak.

Seperti kisah seorang ibu-ibu kesandung batu besar saat ziarah ke Jabal Tsur di Mekah. Jempol kaki kanannya berdarah-darah. Di sela raungan kesakitan, bukannya langsung meminta bantuan medis, ia malah mengingat-ingat dosa masa lalu. Ia ingat, sering menghardik bahkan menendang-nendang kucing. “Pasti ini balasan dosaku ke kucing”, kenang si ibu kepadaku. Ia pun beristigfar, memohon ampun kepada Allah. Alhamdulillah tak lama sakitnya hilang, besoknya sembuh. “Nanti kalo sudah di tanah air, ibu harus minta maaf ke kucing”, demikian saranku.

Seorang jemaah lain yang di kampungnya dikenal sebagai mantan preman, terkena lemparan batu saat melontar jumroh. Batu itu persis mengenai mata kanannya hingga pelipisnya berdarah. Ia marah. Tapi apa hendak di kata, ia tidak tau siapa pelaku pelemparan itu. Ia hanya bisa beristigfar dan terus istigfar. Sambil mengingat-ingat dosa masa lalu. Kepada pembimbing ibadahnya ia jujur, bahwa dulu ia pernah memukuli orang hingga mukanga lebam dan pelipisnya terluka.

Masih banyak kisah lain yang kutemukan langsung, atau kudengar dari cerita-cerita orang. Mungkin pembaca juga pernah mendengar kisah-kisah serupa.

Benarkah semua itu adalah balasan atas dosa di masa lalu? Benarkah anggapan orang bahwa di Tanah Suci amal burukmu akan dibalas? Singkatnya, benarkah ada karma di Mekah?

Bagi seorang Muslim, semua peristiwa yang terjadi di muka bumi ini telah tercatat di lauh mahfudz. Tidak ada yang kebetulan. Semua sudah kehendak Allah SWT. Anda yang saat ini, detik ini, sedang membaca tulisanku ini, juga telah ada prediksinya di lauh mahfudz.

ما أصاب من مصيبة في الأرض ولا  في أنفسكم إلا من قبل أن نبرأها، ذلك على الله يسير.

Demikian firman Allah SWT dalam surat al Hadid ayat 22. Silahkan cari sendiri terjemahan atau tafsirnya.

Terkait peristiwa-peristiwa aneh di Mekah, apakah itu karma atau bukan, berfikirlah positif kepada Tuhan. Tak ada salahnya jika Anda memahami itu sebagai isyarat ilahi, bahan renungan atau evaluasi. “Aku sesuai dengan prasangka hambaku”, demikian firman Allah dalam hadits qudsi.

Sikap para jemaah kita sudah bagus. Setiap kali menemukan musibah, tragedi atau kepahitan di Mekah, mereka selalu langsung istigfar, memohon ampun kepada-Nya. Sebelum berfikir macam-macam, mereka yakin bahwa semua itu adalah karma alias teguran atas dosa yang dilakukan di masa lalu.

Gimana sekarang. Anda kini percaya bahwa karma bisa terjadi di Mekah? Sekali lagi, believe it or not, pilihan ada di tangan Anda. Aku tidak akan memaksa. Wallahu A’lam.

Mekah al Mukarromah, 13 Dzulhijjah 1440 H.

Leave a comment