“Mengapa ikut ribut soal bubarnya Indonesia di 2030. Mau bubar besok pagi saja silahkan. Memangnya kamu bisa apa bila Indonesia memang harus bubar. Bisa apa, hah!” kata Kiai Sarudin sambil menjitak kepala saya.

 

Saya menunduk. Tak berani menatap wajah guru saya itu. Sepertinya saya telah melakukan kesalahan besar karena bertanya soal benar tidaknya orasi Pak Prabowo itu kepadanya. Jujur karena alasan ketakutanlah yang membuat saya bertanya soal itu.

 

Entahlah, saya tiba-tiba merasa takut saja bila di 2030 Indonesia benar-benar bubar.

 

Yang paling menyesakkan adalah bahwa di tahun 2030 itu anak saya yang pertama genap berusia 20 tahun. Sementara anak yang kedua genap 13 tahun. Sungguh memilukan bila di usia mereka yang sedang produktif-produktifnya itu mereka berdua harus melihat kenyataan pahit tentang bubarnya Indonesia.

 

“Dengar. Sejak kemarin-kemarin Indonesia memang sudah ‘bubar’. Mungkin saja Pak Prabowo tidak mau tahu beritanya atau pura-pura tidak tahu saja dia.”

 

“Maaf, maksud Kiai, apanya yang bubar?” tanya saya sambil terus menunduk.

 

“Nah, ini. Kamu makin hari makin goblok saja, Salman. Indonesia itu sudah bubar tahu. Apanya yang bubar..!? Bukan nama Indonesianya yang bubar, tapi jati diri warganya sebagai warga Indonesia yang bubar. Toleransinya mulai bubar, etika komunikasinya bubar, rasa hormat pada ulamanya bubar, sikap kedewasaannya menyikapi perbedaan bubar, akhlak berbicara ustadz dan umatnya bubar, sikap wara’ para da’inya bubar, adab murid pada gurunya bubar, rasa malu sebagian pejabatnya bubar, kharisma para imamnya bubar sampai makmumnya jadi sangar, dan sikap adil sebagian para hakimnya bubar. Nah iitu yang bubar. Tapi yang tak bisa bubar-bubar itu cuma dua. Kamu tahu apa itu?”

 

“Tidak Kiai,” jawab saya.

 

“Korupsi dan hutang pada luar negeri. Haahahaaaaa,” tubuh Kiai Sarudin berguncang-guncang karena tertawaannya sampai saya ikut-ikutan tertawa. Tapi tiba-tiba,

 

Plakk….plak.

 

Tangan Kiai Sarudin mendarat di kedua pipi saya tanpa sempat saya sadari.

 

“Apa alasanmu ikut tertawa.”

 

Saya diam.

 

“Ingat, sekali lagi kamu tanya soal bubarnya Indonesia itu, kujemur kamu seharian di tengah lapangan. Lagi pula, Pak Prabowo mau ngomong apa saja bukan urusanmu menafsirkannya. Suka-suka dia saja karena memang ada maunya. Urus saja ayammu. Didik anakmu menjadi manusia yang berakhlak. Carikan guru atau ustadz yang wara’, bukan pelawak. Serahkan pada guru yang alim ilmunya, cemerlang ruhaninya, bukan ustadz yang tinggi rating dan popularitasnya karena lihai cara ngomongnya. Antarkan anak-anakmu pada guru yang tidak sekadar  banyak hapal dalil-dalil agama tapi tak bisa jaga omongan mulutnya. Itu tugasmu. Sok-sokan bahas omongannya Prabowo. Seribu orang macam Prabowo ngomong Indonesia bakal bubar, itu tak mungkin terjadi kalau Tuhan tak menghendaki. Makanya jangan gampang panik, jangan mudah kagetan. Kayak orang nggak beriman saja kamu. Serahkan semuanya kepada-Nya. Cuih.”

 

Kali ini ludah hangat Kiai Sarudin mendarat tepat di wajah saya.

 

“Sudah bersihkan sana wajahmu dan pulang…pulang…pulang,” hardik Kiai Sarudin. Saya segera berlalu dari hadapanya. Pergi ke tempat wudhu untuk cuci muka. Namun ketika hendak melangkah pulang, Kiai Sarudin kembali memanggil saya.

 

“Kamu tahu, Indonesia masuk negara kawasan apa?”

 

“Asia Kiai.”

 

“Kamu tahu, apa ancaman-ancaman di masa depan yang bisa saja bikin Indonesia benar-benar bubar?”

 

“Tidak Kiai.”

 

“Kamu ini benar-benar du’ung. Baca buku ini. Ini buku hasil riset ilmiah. Sudah jarang. Seharusnya buku-buku macam ini yang dijadikan rujukan kalau mau orasi. Bukan dongeng.”

 

“Boleh saya pinjam Kiai?”

 

“Iya boleh. Kamu baca biar tahu apa persoalan masa depan di kawasan asia ini dan seperti apa dampaknya. Kamu jual juga boleh kalau ada yang mau beli. Tapi bukan aslinya. Fotocopy-nya saja yang dijual. Aslinya saya cuma punya itu.”

 

“Uni saya jual berapa Kiai?”

 

“Tanya dulu si Somad yang jaga fotocopy itu. Biaya fotocopy-nya berapa. Ingat, ambil hasilnya jangan banyak-banyak. Yang mau suruh daftar saja dulu.”

 

“Kalau nggak ada yang mau gimana Kiai?” tanya saya.

 

“Syukurlah kalau begitu. Berarti pada nggak mau baca, pada nggak mau tahu. Itu bagus. Biar kita makin dongo dan makin cepat bubar.”

 

Suara hujan di atap. Saya jadi bangun karena bocor.

(Sahabatku Salman Rusdie)

 

2018

Leave a comment