Malang – Konsep pendidikan baru dan sistem yang berkelanjutan terus menjadi evaluasi terus menerus, baik dari pemerintah, pemerhati pendidikan, para cendekiawan, hingga lembaga pendidikan. Salah satu trobosan menarik digagas dari SMK Terpadu Al Ishlahiyah di Singosari Malang. Konsep baru dengan motto “Sekolah Sak Ngajine” adalah menggabungkan sekolah formal dan pendidikan keagamaan non-formal menjadi satu, artinya lulusan SMK tidak hanya siap untuk kerja, tetapi juga mendapatkan double ijazah; pendidikan formal (SMK) dan pendidikan non-formal (Diniyah).

“Nantinya program ini kita ajukan sebagai pilot project sebagai pembentukan pendidikan karakter khas pesantren dan peningkatan kualitas lulusan dengan SDM keagamaan yang mumpuni, ditunjang ahlaq (moralitas) yang baik ketika siswa terjun dikehidupan nyata. Sehingga nilai-nilai seperti kejujuran, amanah, etos, sabar, sopan santun, dan lainnya bisa langsung mereka terapkan. Justru kesuksesan anak didik bukan masalah tentang prestasi atau nilai yang bagus, kemudian bekerja diperusahaan ternama, tetapi bagaimana cara mereka hidup ber-ahlaqul karimah sepanjang hidup, generasi seperti inilah yang seharusnya menjadi output penting” tutur Anisah Mahfudz, Dewan Pembina Yayasan Pondok Pesantren Al Ishlahiyah Singosari.

Adapun pelaksanaan Diniyah diwajibkan bagi seluruh siswa-siswi yang sekolah, beberapa materi SKU (Syarat Kecakapan Ubudiyah), hafalan Qur’an, praktek Ibadah, pengajian kitab salaf, hingga penerapan pendidikan karakter. Setiap hari dialokasikan 70 menit untuk pendalaman materi tersebut. Hal ini berbeda dengan sistem Madrasah Diniyah yang telah diterapkan di Kabupaten Pasuruan, yang pelaksanaannya memang berada diluar sekolah. Sehingga kontrol terhadap anak didik memang lepas dari tanggungjawab sekolah terkait kemampuan mengaji, ibadah, dan pendidikan karakter.

“Justru konsep dan trobosan yang ditawarkan Al Ishlahiyah inilah yang menjadikan anak-anak kita bisa menghadapi tantangan zamannya. Karena zaman kita dulu berbeda dengan sekarang. Antara pendidikan umum dan agama harus seimbang. Sehingga ketika mereka menjadi pejabat atau pemimpin, mereka tidak akan korupsi. Ketika mereka bekerja, tidak meninggalkan sholat” ungkap H. Sanusi, PLT Bupati Kab. Malang. [NAN/01]

Leave a comment