Adakalanya saat mengkaji kitab-kitab hadis, kita akan menemukan hadis yang secara lahiriah bertentangan (kontradiktif). Misal bertentangan dengan al-Quran, bertentangan dengan Hadis lainnya, bertentangan dengan akal/logika bahkan bertentangan dengan Ijma’. Contoh yang bertentangan dengan ijma’ adalah hadis tentang hukum bunuh bagi peminum khamr. Dari Muawiyyah bin abu Sufyan ia berkata, “Rasulullah bersabda : Jika mereka minum khamr maka cambuklah, jika mereka minum lagi cambuklah, jika mereka minum lagi maka cambuklah, dan jika mereka minum lagi maka bunuhlah” (Sunan abu Dawud, no 3886). Hadis ini dianggap bertentangan dengan ijma’, yang menyatakan bahwa hukum diatas telah di nasakh oleh hadis lain yang menyatakan bahwa hukuman bagi peminum khamr adalah dipukul, tidak sampai dibunuh. Hadis-hadis yang bertentangan akan memunculkan masalah bahkan kebingungan bagi orang awam, bagaimana cara mengatasinya agar tidak menimbulkan kebingungan bahkan perpecahan di tengah umat? Oleh karena itulah Dr Salamah Noorhidayati menulis buku tentang ilmu “Mukhtalif al-Hadis” (Yogyakarta : Lentera kreasindo, 2016). Dalam buku setebal 220 halaman ini, dosen IAIN Tulungagung tersebut menjelaskan kepada kita bagaimana ulama-ulama terdahulu merumuskan cara atau metodologi penyelesaian hadis-hadis yang secara lahiriah bertentangan. Terdapat empat faktor penyebab terjadinya pertentangan/ikhtilaf dalam hadis. Pertama, Latar belakang munculnya sebuah hadis. Kedua, faktor yang menyangkut redaksi teks hadis yang memang terkesan bertentangan. Ketiga, Faktor yang disebabkan oleh konteks dimana Rasulullah saw menyampaikan hadis dan kepada siapa beliau berbicara. Keempat, Faktor yang berkaitan dengan metode seseorang ulama memahami hadis dan kelima, Faktor mazhab atau ideologi seseorang ketika memahami suatu hadis. Contohnya hadis tentang kawin mut’ah, hadis tentang boleh tidaknya bertawasul kepada Nabi atau hadis tentang imamah vs khilafah (Dr. Salamah Noorhidayati, 2016, hal 41-43). Pencetus ilmu Mukhtalif hadis dalam sejarah peradaban Islam adalah Imam Syafi’i. Beliau menulis kitab berjudul Ikhtilaf al-Hadis. Masih menurut Dr Salamah Noorhidayati, sebagai peletak dasar ilmu ini, usaha Imam syafi’i diteruskan oleh ulama bernama Ibn Qutaibah. Imam syafi’i menawarkan metode untuk mengatasi hadis yang nampak bertentangan. Pertama, al-jam’u wa at-Taufiq. Kedua, metode an-Naskh dan terakhir Tarjih. Sementara Ibn Qutaibah menawarkan 2 metode yaitu al-Jam’u dan Tarjih. Metode nasakh terkadang beliau gunakan apabila suatu hadis dianggap cacat. (hal 92-94). Selain ketiga metode diatas, masih ada metode “at-tasaqut” yang dalam istilah Ibnu hajar al-Asqalani disebut “at-tawwaquf”. Sebuah metode yang membuat ulama tidak mengamalkan kedua hadis yang nampak kontradiktif atau menangguhkannya sambil menunggu petunjuk dari Allah swt dalam menyelesaikan pertentangan tersebut (hal 101-102). Untuk meneliti lebih jauh hadis-hadis yang nampak kontradiktif, bisa ditempuh dengan jalan sebagai berikut : 1) Menentukan tema hadis 2) Melakukan takhrij Hadis 3) Mendokumentasikan hasil takhrij 4) Mencatat hadis dan mengidentifikasi ada tidaknya perbedaan redaksi dalam matan hadis (hal 127-128) Keberadaan Mukhtalif al-Hadis dengan berbagai bentuknya bisa berimplikasi pada dua hal: Pertama memunculkan perbedaan pendapat dan kedua, menyebabkan perpecahan (iftiraq) al-ummah. Menurut Dr Salamah, perbedaan yang pertama adalah perbedaan dalam hal Furu’iyyah dan variasi ibadah. Menyikapi hal ini perlu kedewasaan sikap, toleransi dan objektivitas ilmiah (hal 182). Sebelum mengakhiri artikel ini, dengan mengetahui metode ulama dalam mengatasi ikhtilaf dalam hadis, akan membuat seseorang tidak buru-buru mengatakan bahwa hadis yang redaksi/isinya bertentangan itu palsu. Wallahu’allam bishowwab Bagikan: Tweet

Leave a comment